Pernahkah kamu menempuh perjalanan darat selama empat jam penuh di tengah dinginnya dini hari, hanya demi berlari selama kurang lebih tiga puluh menit? Kedengarannya memang sedikit tidak masuk akal, tapi itulah yang saya alami saat mengikuti West Java Eco Marathon 2017.
Sejak pertama kali mendengar kabar bahwa akan ada ajang lari bertema eco-tourism di kawasan pegunungan Jawa Barat, saya langsung tertarik untuk mendaftar. Sebagai seseorang yang rutin run dan ride di sela-sela kesibukan membangun situs web, berlari di jalur lintas alam dengan udara sejuk selalu punya daya tarik tersendiri dibandingkan aspal perkotaan.
Berangkat Sebelum Matahari Terbit
Alarm berbunyi pukul 01.30 dini hari. Jalanan masih lengang ketika kami berangkat dari Bandung menuju lokasi lomba. Perjalanan yang awalnya diperkirakan hanya memakan waktu dua setengah jam ternyata molor menjadi hampir empat jam karena kabut tebal, jalanan berliku, serta antrean kendaraan para peserta yang menuju titik kumpul yang sama.
“Kadang bagian paling menantang dari sebuah perlombaan lari bukanlah kilometer terakhir menuju garis finis, melainkan perjuangan melawan rasa kantuk untuk tiba di garis start tepat waktu.”
Begitu turun dari kendaraan, udara dingin pegunungan langsung menyergap. Namun rasa lelah di perjalanan seketika hilang saat melihat gerbang START berbahan bambu berdiri gagah di bawah rimbunnya pepohonan tinggi, dikelilingi ratusan pelari dengan jersey cerah yang sudah siap melakukan pemanasan.
Tiga Puluh Menit yang Membayar Lunas Perjalanan
Saat aba-aba dimulai, langkah kaki ratusan pelari memecah keheningan pagi. Rute yang disajikan benar-benar memanjakan mata: hamparan kebun teh hijau, pepohonan pinus yang masih basah oleh embun, serta tanjakan tipis yang cukup menguji napas sejak kilometer pertama.
- Rute & Elevasi: Kombinasi jalan tanah padat, bebatuan kecil, dan tanjakan bertahap yang menuntut pengaturan ritme langkah sejak awal.
- Suasana Lomba: Sangat ramah lingkungan dengan minimnya sampah plastik di sepanjang jalur water station.
- Catatan Waktu: Menyelesaikan kategori jarak pendek dalam waktu sekitar setengah jam dengan pace yang stabil dan senyum lebar di garis finis.
Tiga puluh menit terasa berlalu begitu cepat. Ketika mengalungkan medali penamat dan menyeruput minuman hangat di tenda finis, saya sadar bahwa empat jam perjalanan tadi sama sekali tidak sia-sia. Pengalaman berlari di tengah alam terbuka selalu berhasil menyegarkan pikiran sebelum kembali menghadap layar kode di hari Senin.
Sampai jumpa di cerita lari atau bersepeda berikutnya! Jika kamu punya rekomendasi rute lari favorit di sekitar Bandung atau Jawa Barat, jangan ragu untuk menyapa saya lewat halaman contact.
comment
Have a thought about this story? Leave a reply below.